|

Foto: Vbm-Agus
(Vibizmanagement- Inspiration) Sosoknya yang bersahaja dan terlihat begitu bersemangat di usianya yang tidak muda lagi adalah kesan pertama yang didapat dari seorang Ir. H. Doli D. Siregar, M.Sc., FRICS,SCV. Seorang tokoh dalam bidang penilaian dan konsultan properti Indonesia yang penuh dengan segudang pengalaman dan karir yang cemerlang.
Merunut pada perjalanan hidupnya, beliau lahir di Padang Sidempuan, ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara pada tanggal 13 Agustus tahun 1946. Lahir dari pasangan suami istri: Haji BM Muda - almarhum dan Hajjah Siti Mariyam Lubis - almarhumah. Beliau merupakan anak ke 8 dari 9 bersaudara. Dididik di lingkungan yang kental dan sarat dengan dunia pendidikan dan agama, maka hampir seluruh saudaranya bergelar Sarjana dan beberapa bergelar S-2. Dengan latar belakang pendidikan Tehnik Sipil dari Universitas Indonesia, lulus tahun 1978, beliau melanjutkan pendidikan Masternya di Universitas Teknologi Malaysia, Skudai - Johor, lulus pada tahun 1995 dengan tesisnya berjudul: "The Pattern of Land Values for Residential Uses within Jakarta", dimana konsep dan pemikirannya ini digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak Bumi dan Bangunan serta Departemen Keuangan.
Saat ini beliau menjabat sebagai Managing Partner KJPP Doli Siregar dan Rekan setelah sebelumnya beliau adalah chairman Satyatama Graha Tara in association with King Sturge. Selain itu perlu dicatat beliau merupakan seorang Fellow dari Royal Institution of Chartered Surveyor (RICS). Menjabat juga sebagai Sekjen Asean Valuers Association (AVA) dan juga duduk sebagai anggota Standard Board pada InternaValuation Standards Committee (IVSC).
Satyatama Graha Tara sendiri adalah suatu perusahaan penilai dan konsultan properti yang didirikan oleh beliau sendiri sejak tahun 1985. Asosiasi untuk memperluas jaringan global dengan King Sturge ini merupakan salah satu dari “ The Big Five” International Property Consultant, yang dibentuk pada tahun 2000, setelah sebelumnya selama lebih dari 10 tahun telah berasosiasi dengan salah satu konsultan properti Internasional ternama lainnya.

Foto: Vbm-Agus
Konsep yang diterapkan oleh beliau di perusahaan ini adalah dengan menggabungkan kekuatan “local experience” dan “international expertise”. Hal ini membawa SGT Group sebagai suatu peusahaan penilai dan konsultan terbesar di berbagai bidang terkemuka di Indonesia. Banyak perusahaan nasional dan multinasional telah memanfaatkan jasa dan layanannya mulai dari penilaian sampai dengan manajemen aset. Selain itu konsep amuba yang diterapkan dalam melayani jasanya terbukti mampu melewati krisis dan memberikan jasa yang sesuai dengan kebutuhan klien tanpa meninggalkan kompetensi dan profesionalismenya.
Banyak dari pemikirannya yang brilian telah beliau tuangkan dalam bentuk tulisan ataupun buku. Sebagai contoh pola pikir “Think Global, Act local” adalah salah satu paham yang selalu diterapkan beliau dalam upayanya menghubungkan kenyataan dalam tataran dunia Internasional, yaitu isu desentralisasi dengan pelaksanaan otonomi daerah. Sedemikian pentingnya pembangunan berkelanjutan membuat beliau akhirnya menuangkan pengalaman dan gagasannya dalam sebuah buku berjudul Manajemen Aset- Strategi Penataan Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara Nasional dalam Konteks Kepala Daerah sebagai CEO’s pada Era Globalisasi & Otonomi Daerah yang sangat detail dan komprehensif dengan bahasan menyangkut tiga unsur pokok, yaitu: sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan infrastruktur.

Foto: Vbm-Agus
Lebih jelasnya lagi buku ini dengan terperinci menguraikan aspek-aspek penting dari manajemen aset negara, dan dengan jelas mengajukan saran-saran konstruktif untuk menyelamatkan harta negara dengan menekankan peran jasa penilai nasional. Hal ini penting karena selama ini lembaga banyak berkaitan dengan penilai yaitu BPPN selalu tergantung pada jasa penilai asing yang kurang memahami Indonesia. Karena itu, buku ini amat berguna bagi para konsultan, penentu kebijakan, dan praktisi di bidang jasa penilaian.
Dalam perbincangan yang santai dan hangat pada Jumat siang itu, beliau juga mengupas lebih dalam lagi akan pola pikirnya. Beliau berkata bahwa yang sungguhnya diperlukan para pemimpin negeri dan juga setiap anak bangsa adalah pola pikir visioner, kecerdasan spiritual atau cerdas melihat esensi kehidupan. Beliau juga berpesan bahwa generasi pemuda haruslah memiliki hasrat yang kuat dalam belajar. Belajar tiada akhir, selalu belajar hal-hal baru tiap harinya supaya tetap dapat hidup sebab ketika manusia berhenti belajar maka manusia telah memasuki fase kematian.
Beliau juga menjelaskan bahwa setiap kali manusia menambah 1 ilmu maka ada 1000 ilmu lagi yang dia belum ketahui. Begitulah selanjutnya.. Ilmu adalah magnit uang maka magnitkanlah uang dengan ilmu. Terakhir, beliau juga menyarankan supaya kita bertindak sebelum orang berpikir…Hal inilah yang beliau selama ini jalankan dan membawanya pada pencapaian spektakuler..
(Tania Tobing/TN/pba) |